Sabtu, 21 Maret 2009

situs alquran

atman

inggin hafal quran

atman

Jumat, 27 Februari 2009

OWA DAN TERIAKAN IDI


JAKARTA (Media): Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mendesak pemerintah segera mencabut Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan No 347 Tahun 1990 tentang Obat Wajib Apotek. SK itu memberi peluang apotek menjual obat keras ke masyarakat.

"Saat ini hampir 90% apotek di Tanah Air bersedia menjual obat antibiotik daftar G (obat keras) langsung ke masyarakat. Padahal, obat tersebut berjenis ethical (harus dengan resep dokter)," kata Wakil Ketua Biro Hukum dan Pembinaan Anggota PB IDI Slamet Budiarto, di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut, Slamet mengatakan, bagi dokter, hal tersebut dinilai aneh dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Tidak hanya itu, kebijakan itu hanya ada di Indonesia.

Dengan SK Menkes No 347 Tahun 1990, apotek diwajibkan menyediakan obat daftar G. Tujuannya, agar masyarakat dapat memperoleh obat tersebut dengan mudah. Akan tetapi, dengan SK Menkes tersebut, masyarakat diberi peluang untuk membeli obat golongan keras tanpa perlu resep dokter.

Padahal pada awalnya, menurut Slamet, obat-obatan yang diperbolehkan dijual apotek secara langsung adalah obat luar (thopicycal) seperti salep, obat cacing, dan obat-obat antibiotik yang memiliki efek samping yang sangat rendah. "Tetapi lamban laun, merasa melihat celah, akhirnya apoteker menjual semua jenis obat keras."

Slamet menuduh apoteker telah 'memelesetkan' muatan inti dari peraturan tersebut. Seharusnya, yang dimaksud SK Menkes tersebut adalah apoteker wajib menyediakan obat keras bagi masyarakat, bukan memberikan atau menjual langsung ke masyarakat tanpa resep.

Resistensi obat

IDI berpandangan fenomena itu sangat berbahaya. Pertama, tingkat kesehatan masyarakat akan menurun. Pasalnya, pemakaian obat keras atau antibiotika yang tidak tepat akan menyebabkan resistensi (kebal obat) pada tubuh pasien.

"Saya rasa tingkat kesehatan masyarakat saat ini jauh menurun. Kendati memang belum ada penelitian. Tetapi lihat saja faktanya, dulu sakit flu paling 3 hari sembuh sendiri. Namun saat ini, ada yang sampai berminggu-minggu. Tingkat orang yang sakit lever pun makin tinggi. Ini lebih berbahaya daripada formalin dan obat palsu," paparnya.

Permasalahan kedua, bahaya efek samping obat pada pasien yang memiliki penyakit lain yang bertentangan atau pasien yang memiliki alergi. Umpamanya ada pasien sakit penyakit A, namun tanpa disadari, pasien juga menderita penyakit B. Karena apoteker hanya sekedar menjual obat dan tidak memeriksa pasien, tentu apoteker tidak tahu kondisi sakit lain dari pasien.

Masalahnya lain adalah pemberian obat secara langsung berarti apoteker secara tidak langsung telah melakukan praktik pengobatan yang merupakan domain dokter. "Itu tergolong perbuatan kriminal, karena melakukan praktik medis tanpa izin," sergah Slamet.

Secara pribadi dan organisasi, pihak PB IDI telah berkali-kali melayangkan surat tertulis kepada Badan pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Depkes agar Kepmenkes tersebut dicabut. Namun, hingga kini belum ada tanggapan.

Ketua Yaysan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjajarta menambahkan, sebetulnya peraturan itu bersumber dari UU No 419 Tahun 1949 tentang Obat Keras yang hingga saat ini belum dicabut dan baru akan direvisi.

UU tersebut menyatakan bahwa yang berhak menjual obat keras adalah dokter, dokter gigi, dokter hewan, dan apoteker. Dalam jangka waktu tertentu, UU tersebut didukung peraturan teknis. "Permenkes No 34 adalah perubahan yang kelima, dan tiap berubah, cakupan obatnya selalu bertambah."

Saat ini, lanjut marius, hampir semua obat keras daftar, kecuali obat keras dalam bentuk suntik yang bisa langsung dibeli di apotek. "Padahal, kalaupun ada resep untuk mengulang (iter), pasien boleh membeli obat berkali-kali asal ada tanda iter."

Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib membantah isu bahwa terdapat oknum BPOM yang telah menambahkan jumlah cakupan obat keras yang bisa dijual di apotek secara langsung. "Kalaupun berakibat pada peningkatan angka kesakitan pada masyarakat, hal tersebut harus terdapat datanya terlebih dahulu." atman

Efek Metadon

Metadon adalah opiat (narkotik) sintetis yang kuat seperti heroin (putaw) atau morfin, tetapi tidak menimbulkan efek sedatif yang kuat. Metadon biasanya disediakan pada program pengalihan narkoba, yaitu program yang mengganti heroin yang dipakai oleh pecandu dengan obat lain yang lebih aman.
Metadon bukan penyembuh untuk ketergantungan opiat: selama memakai metadon, penggunanya tetap tergantung pada opiat secara fisik. Tetapi metadon menawarkan kesempatan pada penggunanya untuk mengubah hidupnya menjadi lebih stabil dan mengurangi risiko penggunaan narkoba suntikan, dan juga mengurangi kejahatan yang terkait dengan kecanduan. Dan karena diminum, penggunaan metadon mengurangi penggunaan jarum suntik bergantian.
Program metadon sering mempunyai dua tujuan pilihan. Tujuan pertama adalah untuk membantu pengguna berhenti memakai heroin (detoksifikasi), diganti dengan takaran metadon yang dikurangi tahap-demi-tahap selama jangka waktu tertentu. Tujuan kedua adalah untuk menyediakan terapi rumatan (pemeliharaan), yang memberikan metadon secara terus-menerus dengan dosis yang disesuaikan agar pengguna tidak mengalami gejala putus zat (sakaw).

Bagaimana Metadon Dipakai?
Metadon biasanya diberikan pada klien program dalam bentuk sirop yang diminum di bawah pengawasan di klinik setiap hari. Setiap klien membutuhkan takaran yang berbeda, karena adanya perbedaan metabolisme, berat badan dan toleransi terhadap opiat. Beberapa waktu dibutuhkan untuk menentukan takaran metadon yang tepat untuk setiap klien. Pada awalnya, klien harus diamati setiap hari dan reaksi terhadap dosisnya dinilai. Jika klien menunjukkan gejala putus zat, takaran harus ditingkatkan. Umumnya program mulai dengan takaran 20mg metadon dan kemudian ditingkatkan 5-10mg per hari. Biasanya klien bertahan dalam terapi dan mampu menghentikan penggunaan heroin dengan takaran metadon sedang hingga tinggi (60-100mg).

Apa Efek Samping Metadon?

Walaupun metadon biasanya ditoleransi dengan baik, kadang klien mengalami efek samping:
• mual, muntah: 10-15 persen mengalami efek samping ini, yang biasanya hilang setelah beberapa hari
• sembelit: seperti opiat lain, gizi dan olahraga dapat membantu
• keringat: dapat muncul sebagai efek samping
• amenore: masa haid terlambat, atau kadang kala lebih teratur
• libido: metadon dapat menurunkan gairah seksual
• kelelahan: dapat dikurangi dengan mengurangi takaran

Apakah Metadon Berinteraksi dengan Obat Lain?
Tetapi beberapa obat dapat mempengaruhi efek metadon. Jadi petugas klinik metadon seharusnya selalu memantau penggunaan obat lain oleh kliennya. Bila setelah mulai memakai obat lain klien mengalami sakaw atau sedasi, sebaiknya takaran metadon disesuaikan. Sebaliknya, setelah obat tersebut dihentikan, takaran metadon harus disesuaikan lagi.

Garis Dasar
Metadon adalah opiat sintetis yang dapat dipakai untuk mengganti heroin. Terapi rumatan metadon merupakan program harm reduction atau pengurangan dampak buruk penularan HIV/AIDS melalui penggunaan narkotik suntik.
Karena ada interaksi antara metadon dengan beberapa obat yang dipakai oleh Odha (Orang dengan HIV AIDs), petugas klinik metadon harus mengetahui bila klien mulai memakai obat baru, atau berhenti memakainya, agar takaran metadon dapat disesuaikan bila dibutuhkan.

Menurut beberapa orang yang telah menjalani program terapi rumatan, bila sudah memakai Metadon, keinginan memakai putaw jadi berkurang. Kalau dipaksa tetap memakai putauw, malah menjadi hambar, karena ada sistem blocking yang membuat reaksi putaw tak terjadi. Harga Metadon itu sendiri pada takaran 95 mililiter hanya berharga Rp 7.000. Paling mahal, harga Metadon berkisar Rp 15.000. Sebuah nilai yang rasanya pantas menjadi obat pengalih kecanduan heroin seperti putaw.

atman

alkaloid xantin

Kafein

Kafein merupakan alkaloid xantin berwarna putih dan berasa pahit yang berfungsi sebagai stimulan psikoaktif dan dapat mempercepat produksi urin pada manusia dan hewan. Pada tanaman, kafein berfungsi sebagai pestisida alam yang dapat melindunginya dari serangan serangga dan menyebabkan paralisis (kelumpuhan) terhadap serangga tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kafein pada tanaman paling banyak terdapat pada kopi, teh dan coklat yang kita konsumsi setiap hari. Sehingga kita tidak mengetahui resiko apa yang mungkin timbul akibat konsumsi kafein yang berlebihan.

Mekanisme Aksi

Gambar1. Kafein sebagai antagonis adenosin

Kafein mengurung reseptor adenosin di otak. Adenosin ialah senyawa nukleotida yang berfungsi mengurangi aktivitas sel saraf saat tertambat pada sel tersebut. Seperti adenosin, molekul kafein juga tertambat pada reseptor yang sama, tetapi akibatnya berbeda. Kafein tidak akan memperlambat aktivitas sel saraf/otak sebaliknya menghalang adesonin untuk berfungsi. Dampaknya aktivitas otak meningkat dan mengakibatkan hormon epinefrin dirembes. Hormon tersebut akan menaikkan detak jantung, meninggikan tekanan darah, menambah penyaluran darah ke otot-otot, mengurangi penyaluran darah ke kulit dan organ dalam, dan mengeluarkan glukosa dari hati. Tambahan, kafein juga menaikkan permukaan neurotransmitter dopamine di otak.

Kafein dapat dikeluarkan dari otak dengan cepat, tidak seperti alkohol atau perangsang sistem saraf pusat yang lain. Pengambilan kafein secara berkelanjutan akan menyebabkan badan menjadi toleran dengan kehadiran kafein. Oleh itu, jika pengambilan kafein diberhentikan (proses ini dinamakan “penarikan” atau “tarikan”), badan menjadi terlalu sensitif terhadap adenosin menyebabkan tekanan darah turun secara mendadak yang seterusnya mengakibatkan sakit kepala dan sebagainya.

Efek Farmakologis (Manfaat)

Kafein merupakan suatu stimulant (memicu terbentuknya) sistem saraf pusat dan metabolit, yang keduanya dikeluarkan dan secara medis dapat mengurangi rasa capek dan mengembalikan mental saat lemah. Kafein untuk stimulat pada system saraf pusat terjadi pada saat konsentrasi tinggi, sehingga meningkatkan kewaspadaan / kesiapan dan kemampuan jelajah, kecepatan, fokus serta koordinasi terhadap tubuh yang baik. Dalam tubuh, kafein dimetabolisme menjadi beberapa senyawa yang dapat dilihat pada gambit dibawah ini:

Gambar 2. Metabolism kafein dalam tubuh

Kafein dimetabolisme dalam hati menjadi tiga metabolit primer, yaitu: paraxanthine (84%), theobromine (12%), and theophylline (4%). Kafein diabsorbsi (diserap) oleh lambung dan usus halus 45 menit setelah pemberian. Fungsi ketiga metabolit tersebut didalam tubuh adalah sebagai berikut:

1. Paraxanthine (84%): untuk meningkatkan lipolisis (lisis terhadap lemak), dan meningkatkan gliserol dan asam lemak bebas dalam plasma darah.

2. Theobromine (12%): memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan volume urin.

3. Theophylline (4%): relaksasi otot halus pada bronkus, dan digunakan untuk mengobati penyakit asma.

Kebutuhan kafein yang tepat untuk menghasilkan efek, bervariasi terhadap masing-masing orang tergantung pada ukuran tubuh dan derajat toleransinya terhadap kafein. Mengkonsumsi kafein tidak mengurangi keperluan untuk tidur, tetapi hanya untuk mengurangi rasa capek.

Kafein dapat dikeluarkan dari otak dengan cepat, tidak seperti alkohol atau perangsang sistem saraf pusat yang lain. Pengambilan kafein secara berkelanjutan akan menyebabkan badan menjadi toleran dengan kehadiran kafein. Oleh itu, jika pengambilan kafein diberhentikan (proses ini dinamakan “penarikan” atau “tarikan”), badan menjadi terlalu sensitif terhadap adenosin menyebabkan tekanan darah turun secara mendadak yang seterusnya mengakibatkan sakit kepala dan sebagainya.

Efek Negatif ( Racun)

Terlalu banyak kafein dapat menyebabkan intoksikasi kafein. Gejala penyakit inii ialah keresahan, kerisauan, insomnia, keriangan, muka merah, kerap kencing (diuresis), dan masalah gastrointestial. Gejala-gejala ini bisa terjadi walaupun hanya 250 mg kafein yang diambil. Jika lebih 1 g kafeina diambil dalam satu hari, gejala seperti kejangan otot (muscle twitching), kekusutan pikiran dan perkataan, aritmia kardium (gangguan pada denyutan jantung) dan bergejolaknya psikomotor (psychomotor agitation) bisa terjadi. Intoksikasi kafein juga bisa mengakibatkan kepanikan dan penyakit kerisauan.

Pengambilan kafein secara berkelanjutan akan menyebabkan badan menjadi toleran dengan kehadiran kafein. Oleh itu, jika pengambilan kafein diberhentikan (proses ini dinamakan “penarikan” atau “tarikan”), badan menjadi terlalu sensitif terhadap adenosin menyebabkan tekanan darah turun secara mendadak yang seterusnya mengakibatkan sakit kepala dan sebagainya.

atman

Insomnia

Kebutuhan akan tidur dapat dianggap sebagai suatu perlindungan dari organisme untuk menghindari pengaruh yang merugikan tubuh karena kurang tidur. Tidur yang baik, cukup dalam dan lama, adalah mutlak untuk regenerasi sel-sel tubuh dan memungkinkan pelaksaaan aktivitas pada siang hari dengan baik. (Tjay and Rahardja, 2002).

DEFINISI

Insomnia merupakan salah satu penyakit yang sering dikeluhkan oleh pasien selain headache (sakit kepala) dan common cold. Insomnia bukan penyakit yang spesifik, tetapi merupakan penyakit dengan bermacam-macam penyebab dan keluhan. Pasien mungkin mengeluhkan kesulitan memulai tidur, sering terjaga, tidur terlalu singkat, atau tidur yang tidak membuat tubuh menjadi segar (Crismon and Canales, 2004). Jadi bisa dikatakan Insomnia adalah suatu gejala/symptom yang tidak dapat didefinisikan karena tidak memiliki criteria secara tepat/pasti. Secara umum insomnia dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan sulit tidur/tidak bisa tidur.

KLASIFIKASI

Insomnia dapat dibedakan menjadi insomnia yang sifatnya sementara, jangka pendek ataupun kronis (jangka panjang). Insomnia yang sifatnya sementara berlangsung kurang dari 1 minggu dan ini dapat hilang dengan sendirinya. Sedangkan insomnia jangka pendek berlangsung kurang lebih 1– 3 minggu. Dan jika tidak ditangani dengan tepat maka insomnia jangka pendek dapat berkembang menjadi insomnia yang sifatnya kronis (jangka panjang). Untuk insomnia kronis (jangka panjang) berlangsung lebih dari 3 minggu sampai tahunan (Crismon and Canales, 2004).

TANDA DAN GEJALA

Pasien insomnia memiliki keluhan seperti sulit tidur, sering terjaga, bangun terlalu pagi dan kesulitan tidur kembali, tidur yang buruk, aktifitas tidur yang terganggu karena mimpi-mimpi yang tidak biasa dan mengganggu, mudah kaget, mudah merasa jengkel dan tersinggung/sensitive, murung/muram/sedih, memiliki masalah ingatan, pernafasan dan denyut jantung tidak normal, mata merah, dan badan lesu /tidak fit.

ETIOLOGI/PENYEBAB

Insomnia atau tidak bisa tidur dapat diakibatkan oleh banyak gangguan fisik, misalnya batuk, rasa nyeri (rematik, encok, migrain, restless legs, keseleo, dsb). Yang sangat penting pula adalah gangguan kejiwaan, seperti emosi, ketegangan, kecemasan, atau depresi (Tjay and Rahardja, 2002).

PENANGANAN INSOMNIA

Ø Tujuan Terapi.

Tujuan terapinya supaya pasien yang menderita insomnia dapat kembali tidur normal, dapat beristirahat tanpa harus terbangun berulang kali, dan supaya pada saat siang hari tidak mengalami rasa kantuk dan kelelahan akibat kesulitan tidur pada malam harinya.

Ø Sasaran Terapi.

Sasaran terapinya meliputi gejala insomnia dan pola hidup yang salah.

Ø Strategi terapi.

Strategi terapinya yaitu mengatasi/menghindari factor penyebab insomnia serta meningkatkan kualitas pola hidup.

Ø Penatalaksanaan.

a. Non-FarmakoterapiPerlu diperbaiki cara hidup yang keliru, misalkan melakukan kegiatan psikis yang melelahkan sebelum tidur. Dianjurkan pula untuk melakukan gerak badan secara teratur, jangan merokok dan minum kopi atau alcohol pada malam hari, karena dapat mengganggu pola tidur. Gerak-jalan, melakukan kegiatan kegiatan yang rileks, mandi air panas, minum segelas susu hangat dengan cereal sebelum tidur, ternyata dapat mempermudah dan memperdalam tidur yang normal. Selain itu juga dianjurkan untuk memperbaiki suasana ruang tidur seperti kualitas kasur dan bantal dipilih yang senyaman mungkin, ruangan tidak berisik, ventilasi udara cukup dan mengembangkan kebiasaan tidur yang tetap dengan waktu tidur tertentu setiap malam (Tjay and Rahardja, 2002). Pasien yang menderita insomnia sebelum melakukan terapi farmakologi (menggunakan obat), sebaiknya melakukan prinsip-prinsip tidur yang sehat, yaitu ikuti pola tidur yang tetap : pergi tidur dan bangun kira-kira pada waktu yang sama setiap hari, buatlah kamar tidur yang nyaman untuk tidur (hindari perbedaan temperatur, kegaduhan/keributan, dan cahaya yang terlalu terang), pastikan tempat tidur nyaman, lakukan aktivitas santai sebelum waktu tidur, olahraga teratur tetapi jangan larut malam, gunakan kamar tidur untuk tidur dan aktivitas seksual saja dan tidak sebagai tempat kerja, ruang bermain atau hal yang lain, jika tegang, lakukan latihan relaksasi, jika lapar, makan snack ringan, tapi hindari makanan atau snack dalam jumlah besar sesaat sebelum tidur, kurangi tidur siang, hindari penggunaan alcohol/nikotin pada larut malam, jangan gelisah apabila tidak bisa tidur, tinggalkan kamar tidur dan lakukan aktivitas santai selama 20-30 menit (Crismon and Canales, 2004).b. FarmakoterapiØ BenzodiazepinHipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan faali untuk tidur. Lazimnya obat ini diberikan pada malam hari. Bilama zat-zat ini diberikan pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan , maka dinamakan sedativa (obat-obat pereda). Oleh karena itu tidak ada perbedaan yang tajam antara kedua kelompok obat ini. Sedativa berfungsi menurunkan aktivitas, mengurangi ketegangan, dan menenangkan penggunanya. Sedangkan hipnotika menimbulkan rasa kantuk, mempercepat tidur, dan sepanjang malam mempertahankan keadaan tidur yang menyerupai tidur alamiah. Hipnotikum yang ideal sebetulnya tidak ada, tetapi obat-obat yang paling layak digunakan adalah suatu obat dari kelompok benzodiazepin (Tjay and Rahardja, 2002).Benzodiazepin hendaknya jangan diberikan pada anak-anak untuk periode panjang, karena dapat mempengaruhi perkembangan psikisnya. Obat ini efektif untuk mempercepat tidur, memperpanjang waktu tidur dengan mengurangi frekuensi terbangun serta memperbaiki kualitas (dalamnya) tidur. Selain itu, obat tersebut memiliki keberatan-keberatan yang paling ringan dibandingkan hipnotika. Obat-obatan ini pada umumnya kini dianggap sebagai obat tidur pilihan pertama karena toksisitasnya dan efek sampingnya yang relatif paling ringan. (Tjay and Rahardja, 2002).1. Nama generic : EstazolamNama dagang di Indonesia : Esilgan

Bentuk Sediaan : Tablet

Dosis : 1-2 mg/malam

Aturan pakai : Diberikan sewaktu hendak tidur. Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Indikasi : Semua gangguan tidur karena gugup, cemas, tegang, psikosis

Kontraindikasi : Miastenia Gravis, pasien yang fungsi pernafasannya sangat tertekan, pasien yanglemah atau lanjut usia.

Efek samping : Letih, lesu, mengantuk, dimana mengantuk dapat dikurangi jika obat diberikan segera sesuadah makan. Efek samping lainnya yaitu pusing, nyeri kepala, mulut kering, rasa pahit di mulut, gangguan lambung usus, dan penglihatan berganda karena otot mata mengendur. Pada penggunaan yang lama dapat menyebabkan rage reaction (perilaku menyerang dan ganas)

Resiko khusus : Untuk wanita hamil. Estazolam termasuk kategori X. Maksudnya, Studi terhadap binatang percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitasjanin atau terdapat bukti adanya risiko pada janin, dan risiko penggunaan obat ini jelas melebihi manfaat yang diperoleh. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan hamil.

2. Nama generic : Triazolam

Nama dagang di Indonesia : Halcion

Bentuk Sediaan : Tablet

Dosis : 0,125 mg dan 0,25 mg

Aturan pakai : Diberikan sewaktu hendak tidur. Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Indikasi : Insomnia ringan dan berjangka pendek dan sebagai pengobatan insomnia berjangka panjang

Kontraindikasi : Hipersensitivitas, wanita hamil

Efek Samping : Mengantuk, sakit kepala/pusing, gelisah, kehilangan keseimbangan, mual, muntah.

Resiko khusus : Untuk wanita hamil. Triazolam termasuk kategori X. Maksudnya, Studi terhadap binatang percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitasjanin atau terdapat bukti adanya risiko pada janin, dan risiko penggunaan obat ini jelas melebihi manfaat yang diperoleh. Obat dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan hamil.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Vol 42, ISFI, Jakarta

Crismon, M.L., dan Canales, P.L, 2004, Insomnia dalam Handbook of Nonprescription Drug, 12 th edition, APHA, Washington DC.

Tjay, T.H dan Rahardja, K., 2002, Obat-Obat Penting, Edisi 5, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th edition, Lexi Comp Ine, Canada

atman

KOMBINASI ANTIBIOTIKA



FARMAKOTERAPI ANTIINFEKSI/ANTIBIOTIKA
I. PENDAHULUAN
Penggunaan antibiotika/kemoterapetika dalam 5 dekade terakhir sangat meningkat. Namun angka morbiditas dan
mortalitas penyakit infeksi masih tetap tinggi. Seiring dengan perkembangan IPTEK, penemuan dan pengembangan
antibiotika baru juga makin pesat, dan masalahpun timbul antara lain: biaya kesehatan makin tinggi, pemilihan
antibiotika yang makin beragam serta penggunaan antibiotika/kemoterapetika cenderung tidak rasional sehingga
diiringi makin banyaknya bakteri yang resisten terhadap antibiotika/ kemoterapetika. Banyaknya pilihan antibiotika
tidak menjamin bahwa setiap antibiotika dapat digunakan pada setiap infeksi. Diharapkan dengan pemahaman
antibiotika, penggunaan antibiotika/kemoterapetika dapat lebih rasional.
II. TUJUAN
Setelah mengikuti kuliah dan diskusi, mahasiswa diharapkan memiliki:
1. Pemahaman mengenai klasifikasi antiinfeksi dan antibiotika/kemoterapetika.
2. Pemahaman mengenai dasar-dasar penggunaan antibiotika/kemoterapetika.
3. Pemahaman mengenai akibat penggunaan antibiotika/kemoterapetika serta penanggulangannya.
III. PERSIAPAN DAN BAHAN BACAAN
1. Budiono Santoso, 1990, Peta Klasifikasi Antibiotika dan Prinsip Pemilihan dan Pemakaiannya Dalam Klinik, Lab.
Farmakologi Klinik FK-UGM, hal 1-20.
2. Antibiotic Guidelines Sub Committee, Victorian Drug Use Advisory Committee, 1994, Antibiotic Guidelines, 8th
Edition.
3. Speight TM (eds) 1997, Avery’s Drug Treatment: Principles and Practices of Clinical Pharmacology and
Therapeutics, 4th Edition, ADIS Press, Auckland.
***
Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada------------------------------------------- 2
A-13/CKD

PETA KLASIFIKASI ANTIBIOTIKA DAN PRINSIP
PEMILIHAN DAN PEMAKAIANNYA DALAM KLINIK
I. PENDAHULUAN
Semenjak diketemukannya penisilin ataupun obat-obat sulfa pada tahun 1930 an, sampai saat ini berbagai jenis
antibiotika dan kemoterapetika banyak sekali ditemukan dan dikembangkan, baik dengan teknik sintesis ataupun
semisintesis. Pengembangan obat-obat golongan ini merupakan suatu tonggak kemajuan dalam dunia pengobatan,
oleh karena berbagai penyakit infeksi dapat diobati secara efektif atau pada beberapa keadaan dapat dicegah
terjadinya kecacadan. Contoh yang paling jelas adalah menurunnya kejadian demam rematik semenjak
digunakannya penisilin dalam klinik sebagai profilaksi primer untuk infeksi streptokokus beta hemolitikus (1),
walaupun jelas penurunan ini bukan semata-mata andil pemakaian antibiotika, tetapi juga karena membaiknya
kondisi sosial-ekonomi. Penemuan berbagai antibiotika dan kemoterapetika baru juga telah memungkinkan
perkembangan dalam bidang kedokteran lain, misalnya transplantasi organ, operasi pemasangan protesa (misalnya
katup jantung), terapi keganasan dan lain-lain, yang tidak dapat dilepaskan dari peranan pemakaian antibiotika yang
efektif.
Ketersediaan berbagai jenis antibiotika dalam klinik ternyata juga membawa dampak kesulitan bagi para praktisi
terutama dalam melakukan pemilihan antibiotika secara tepat, mana yang paling aman dan efektif pada seorang
pasien. Cepatnya penemuan berbagai jenis antibiotika baru, sayangnya tidak diikuti secara sepadan oleh
berkembangnya prinsip-prinsip/sistematika terapi antibiotika dalam klinik. Di samping itu sering kali praktisi
menghadapi kesulitan dalam pemilihan antibiotika oleh karena gambaran sistematika pembagian (klasifikasi) dari
berbagai jenis antibiotika dan kemoterapetika ini kurang banyak dimengerti. Jadi secara ringkas kesulitan yang
sering dihadapi adalah,
- Bagaimana sebenarnya sistematika pembagian antibiotika secara keseluruhan, dan di mana tempat dan peran
dari masing-masing jenis antibiotika. Bukannya klasifikasi ini tidak ada sama sekali, tetapi justru yang diperlukan
adalah klasifikasi yang praktis dalam pemakaian klinik. Klasifikasi yang ada terutama berdasarkan tempat dan
mekanisme kerja antibiotika terhadap kuman, yang secara praktis agak sulit dipakai sehari-hari dalam klinik.
- Bagaimana menelaah, membandingkan berbagai alternatif antibiotika dan kemoterapetika yang ada dan
membuat langkah-langkah keputusan pemilihan antibiotika dalam menghadapi suatu kasus infeksi.
Dua masalah di atas, ditambah dengan kelangkaan informasi yang obyektif mengenai antibiotika serta faktor-faktor
lain seperti adanya kepercayaan yang keliru mengenai manfaat antibiotika (misalnya antibiotika diperlukan lebih
banyak pada populasi dengan malnutrisi), tekanan pasien dan lain-lain, mendorong terjadinya berbagai bentuk
ketidak tepatan dan ketidak rasionalan pemakaian. Masalah ketidak tepatan pemakaian antibiotika dalam klinik
merupakan hal yang serius oleh karena kemungkinan dampak negatif yang mungkin terjadi misalnya tidak
tercapainya tujuan terapi (yakni penyembuhan atau pencegahan infeksi), atau meningkatnya jenis-jenis kuman yang
resisten. Salah satu contoh yang sering kita lihat sehari-hari, untuk infeksi saluran pernafasan akut yang ringan, yang
belum tentu karena kuman, sebagian besar kasus yang datang di puskesmas (+ 90%) selalu mendapatkan
antibiotika (2), dan umumnya yang diberikan adalah tetrasiklin.
Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada------------------------------------------- 3
Pola pemakaian antibiotika secara serampangan ini akan memberikan dampak negatif dari dua segi. Pertama,
terjadinya pemborosan biaya karena pemakaian antibiotika untuk kasus-kasus yang sebagian mungkin sebenarnya
tidak memerlukannya. Kedua, misalnya pada faringitis streptokokus yang notabene memerlukan pengobatan
antibiotika secara penuh (dengan penisilin, eritromisin atau yang lain) pengobatan dengan tetrasiklin tidak akan
dapat mencegah terjadinya demam rematik jika infeksinya karena beta streptokokus hemolitikus. Masih banyak
contoh ketidak tepatan pemakaian antibiotika dalam klinik, misalnya pemakaian antibiotika pada kasus-kasus diare
akut (2,3), pemakaian antibiotika profilaksi pada tindakan operatif, di mana sering terjadi kekeliruan dalam pemilihan
jenis antibiotika, waktu dan lama pemberian, dan sebagainya.
Dari uraian ini, maka dipandang perlu untuk membahas secara ringkas dan praktis bagaimana peta klasifikasi
antibiotika saat ini, bagaimana memilih dan memakainya dalam klinik. Secara rinci sifat-sifat farmakologik dari
berbagai jenis antibiotika tidak dikupas mendalam di sini, sehingga dianjurkan untuk mengacu kepada sumbersumber
pustaka yang sesuai.
II. PEMBAGIAN JENIS ANTIBIOTIKA
Seperti diuraikan di depan, klasifikasi antibiotika dan kemoterapetika yang sering dianjurkan dan digunakan adalah
berdasarkan bagaimana kerja antibiotika tersebut terhadap kuman, yakni antibiotika yang bersifat primer
bakteriostatik dan antibiotika yang bersifat primer bakterisid (4). Yang termasuk bakteriostatik di sini misalnya
sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dan
lain-lain. Obat-obat bakteriostatik bekerja dengan mencegah pertumbuhan kuman, tidak membunuhnya, sehingga
pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Sedangkan antibiotika yang bakterisid, yang secara
aktif membasmi kuman meliputi misalnya penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol,
rifampisin, isoniazid dan lain-lain.
Manfaat dari pembagian ini dalam pemilihan antibiotika mungkin hanya terbatas, yakni pada kasus pembawa kuman
(carrier), pada pasien-pasien dengan kondisi yang sangat lemah (debilitated) atau pada kasus-kasus dengan depresi
imunologik tidak boleh memakai antibiotika bakteriostatik, tetapi harus bakterisid. Secara klasik selalu dianjurkan
bahwa kombinasi antibiotik bakterisid dan bakteriostatik akan merugikan oleh karena antibiotik bakterisid bekerja
pada kuman yang sedang tumbuh, sehingga kombinasi dengan jenis bakteriostatik akan memperlemah efek
bakterisidnya. Tetapi konsep ini mungkin tidak bisa begitu saja diterapkan secara luas dalam klinik, oleh karena
beberapa kombinasi yang dianjurkan dalam klinik misalnya penisilin (bakterisid) dan kloramfenikol (bakteriostatik)
justru merupakan alternatif pengobatan pilihan untuk meningitis bakterial yang umumnya disebabkan oleh kuman
Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae (5).
Pembagian lain juga sering dikemukakan berdasarkan makanisme atau tempat kerja antibiotika tersebut pada
kuman, yakni (6),
1. Antibiotika yang bekerja menghambat sintesis dinding sel kuman, termasuk di sini adalah basitrasin,
sefalosporin, sikloserin, penisilin, ristosetin dan lain-lain.
2. Antibiotika yang merubah permeabilitas membran sel atau mekanisme transport aktif sel. Yang termasuk di sini
adalah amfoterisin, kolistin, imidazol, nistatin dan polimiksin.
3. Antibiotika yang bekerja dengan menghambat sintesis protein, yakni kloramfenikol, eritromisin (makrolida),
linkomisin, tetrasiklin dan aminogliosida.
4. Antibiotika yang bekerja melalui penghambatan sintesis asam nukleat, yakni asam nalidiksat, novobiosin,
pirimetamin, rifampisin, sulfanomida dan trimetoprim.
Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada------------------------------------------- 4
Pembagian ini walaupun secara rinci menunjukkan tempat kerja dan mekanismenya terhadap kuman, namun
kiranya kurang memberikan manfaat atau membantu praktisi dalam memutuskan pemilihan obat dalam klinik.
Masing-masing cara klasifikasi mempunyai kekurangan maupun kelebihan, tergantung kepentingannya.
Dalam praktek klinik, yang paling dikenal dan dipakai adalah pembagian jenis antibiotika dan kemoterapetika
berdasarkan susunan senyawa kimiawinya. Hal ini dapat dimengerti oleh karena nampaknya lebih praktis dan
langsung dapat dipakai dalam praktek klinik, di mana nama-nama obat langsung terkait dengan nama kelompok
antibiotika masing-masing. Hanya saja dengan makin banyaknya jenis antibiotika dan kemoterapetika baru yang
diperkenalkan, sering praktisi menghadapi kesulitan, yakni di mana peran dari suatu jenis antibiotika baru
dibandingkan dengan jenis-jenis lain yang sudah ada? Apa kelebihannya dibandingkan dengan antibiotika yang
sudah ada dan apa kekurangannya?
Secara garis besar, jenis-jenis antibiotika dan kemoterapetika yang ada paling tidak akan mencakup jenis-jenis
berikut ini (7):
1. Golongan penisilin.
Golongan penisilin bersifat bakterisid dan bekerja dengan mengganggu sintesis dinding sel. Antibiotika pinisilin
mempunyai ciri khas secara kimiawi adanya nukleus asam amino-penisilinat, yang terdiri dari cincin tiazolidin
dan cincin betalaktam. Spektrum kuman terutama untuk kuman koki Gram positif. Beberapa golongan penisilin
ini juga aktif terhadap kuman Gram negatif. Golongan penisilin masih dapat terbagi menjadi beberapa
kelompok, yakni:
Penisilin
yang rusak oleh enzim penisilinase, tetapi spektrum anti kuman terhadap Gram positif paling kuat.
Termasuk di sini adalah Penisilin G (benzil penisilin) dan derivatnya yakni penisilin prokain dan penisilin
benzatin, dan penisilin V (fenoksimetil penisilin). Penisilin G dan penisilin prokain rusak oleh asam lambung
sehingga tidak bisa diberikan secara oral, sedangkan penisilin V dapat diberikan secara oral. Spektrum
antimikroba di mana penisilin golongan ini masih merupakan pilihan utama meliputi infeksi-infeksi streptokokus
beta hemolitikus grup A, pneumokokus, meningokokus, gonokokus, Streptococcus viridans, Staphyloccocus,
pyoneges (yang tidak memproduksi penisilinase), Bacillus anthracis, Clostridia, Corynebacterium diphteriae,
Treponema pallidum, Leptospirae dan Actinomycetes sp.
Penisilin
yang tidak rusak oleh enzime penisilinase, termasuk di sini adalah kloksasilin, flukloksasilin,
dikloksasilin, oksasilin, nafsilin dan metisilin, sehingga hanya digunakan untuk kuman-kuman yang memproduksi
enzim penisilinase.
Penisilin
dengan spektrum luas terhadap kuman Gram positif dan Gram negatif, tetapi rusak oleh enzim
penisilinase. Termasuk di sini adalah ampisilin dan amoksisilin. Kombinasi obat ini dengan bahan-bahan
penghambat enzim penisiline, seperti asam klavulanat atau sulbaktam, dapat memperluas spektrum terhadap
kuman-kuman penghasil enzim penisilinase.
Penisilin
antipseudomonas (antipseudomonal penisilin). Penisilin ini termasuk karbenisilin, tikarsilin, meklosilin
dan piperasilin diindikasikan khusus untuk kuman-kuman Pseudomonas aeruginosa.
2. Golongan sefalosporin.
Golongan ini hampir sama dengan penisilin oleh karena mempunyai cincin beta laktam. Secara umum aktif
terhadap kuman Gram positif dan Gram negatif, tetapi spektrum anti kuman dari masing-masing antibiotika
sangat beragam, terbagi menjadi 3 kelompok, yakni:

- Generasi pertama yang paling aktif terhadap kuman Gram positif secara in vitro. Termasuk di sini misalnya
sefalotin, sefaleksin, sefazolin, sefradin. Generasi pertama kurang aktif terhadap kuman Gram negatif.
- Generasi kedua agak kurang aktif terhadap kuman Gram positif tetapi lebih aktif terhadap kuman Gram negatif,
termasuk di sini misalnya sefamandol dan sefaklor.
- Generasi ketiga lebih aktif lagi terhadap kuman Gram negatif, termasuk Enterobacteriaceae dan kadang-kadang
peudomonas. Termasuk di sini adalah sefoksitin (termasuk suatu antibiotika sefamisin), sefotaksim dan
moksalatam.
3. Golongan amfenikol
Golongan ini mencakup senyawa induk kloramfenikol maupun derivat-derivatnya yakni kloramfenikol palmitat,
natrium suksinat dan tiamfenikol. Antibiotika ini aktif terhadap kuman Gram positif dan Gram negatif maupun
ricketsia, klamidia, spirokaeta dan mikoplasma. Karena toksisitasnya terhadap sumsum tulang, terutama anemia
aplastika, maka kloramfenikol hanya dipakai untuk infeksi S. typhi dan H. influenzae.
4. Golongan tetrasiklin
Merupakan antibiotika spektrum luas bersifat bakteriostatik untuk kuman Gram positif dan Gram negatif, tetapi
indikasi pemakaiannya sudah sangat terbatas oleh karena masalah resistensi, namun demikian antibiotika ini masih
merupakan pilihan utama untuk infeksi-infeksi yang disebabkan oleh klamidia, riketsia, dan mikoplasma. Mungkin
juga efektif terhadap N. meningitidis, N. gonorhoeae dan H. influenzae., termasuk di sini adalah tetrasiklin,
klortetrasiklin, oksitetrasiklin, doksisiklin, minosiklin, metasiklin dan demeklosiklin.
5. Golongan aminoglikosida
Merupakan golongan antibiotika yang bersifat bakterisid dan terutama aktif untuk kuman Gram negatif. Beberapa
mungkin aktif terhadap Gram positif. Streptomisin dan kanamisin juga aktif terhadap kuman TBC. Termasuk di sini
adalah amikasin, gentamisin, kanamisin, streptomisin, neomisin, metilmisin dan tobramisin, antibiotika ini punya sifat
khas toksisitas berupa nefrotoksik, ototoksik dan neurotoksik.
6. Golongan makrolida
Golongan makrolida hampir sama dengan penisilin dalam hal spektrum antikuman, sehingga merupakan alternatif
untuk pasien-pasien yang alergi penisilin. Bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Aktif secara in vitro
terhadap kuman-kuman Gram positif, Gram negatif, mikoplasma, klamidia, riketsia dan aktinomisetes. Selain
sebagai alternatif penisilin, eritromisin juga merupakan pilihan utama untuk infeksi pneumonia atipik (disebabkan
oleh Mycoplasma pneumoniae) dan penyakit Legionnaires (disebabkan Legionella pneumophilla) termasuk dalam
golongan makrolida selain eritromisin juga roksitromisin, spiramisin, josamisin, rosaramisin, oleandomisin dan
trioleandomisin.
7. Golongan linkosamid.
Termasuk di sini adalah linkomisin dan klindamisin, aktif terhadap kuman Gram positif termasuk stafilokokus yang
resisten terhadap penisilin. Juga aktif terhadap kuman anaerob, misalnya bakteroides. Sering dipakai sebagai
alternatif penisilin antistafilokokus pada infeksi tulang dan sendi serta infeksi-infeksi abdominal. Sayangnya,
pemakaiannya sering diikuti dengan superinfeksi C. difficile, dalam bentuk kolitis pseudomembranosa yang fatal.

8. Golongan polipeptida.
Antibiotika golongan ini meliputi polimiksin A, B, C, D dan E. Merupakan kelompok antibiotika yang terdiri dari
rangkaian polipeptida dan secara selektif aktif terhadap kuman Gram negatif, misalnya psedudomonas maupun
kuman-kuman koliform yang lain. Toksisitas polimiksin membatasi pemakaiannya, terutama dalam bentuk
neurotoksisitas dan nefrotoksisitas. Mungkin dapat berperan lebih penting kembali dengan meningkatnya infeksi
pseudomonas dan enterobakteri yang resisten terhadap obat-obat lain.
9. Golongan antimikobakterium
Golongan antibiotika dan kemoterapetika ini aktif terhadap kuman mikobakterium. Termasuk di sini adalah obat-obat
anti TBC dan lepra, misalnya rifampisin, streptomisin, INH, dapson, etambutol dan lain-lain.
10. Golongan sulfonamida dan trimetropim
Kepentingan sulfonamida dalam kemoterapi infeksi banyak menurun karena masalah resistensi. Tetapi beberapa
mungkin masih aktif terhadap bentuk-bentuk infeksi tertentu misalnya sulfisoksazol untuk infeksi dan infeksi saluran
kencing. Kombinasi sulfamektoksazol dan trimetoprim untuk infeksi saluran kencing, salmonelosis, kuman bronkitis,
prostatitis. Spektrum kuman mencakup kuman-kuman Gram positif dan Gram negatif.
11. Golongan kuinolon
Merupakan kemoterapetika sintetis yang akhir-akhir ini mulai populer dengan spektrum antikuman yang luas
terutama untuk kuman-kuman Gram negatif dan Gram positif, enterobakteriaceae dan pseudomonas. Terutama
dipakai untuk infeksi-infeksi nosokomial. Termasuk di sini adalah asam nalidiksat, norfloksasin, ofloksasin,
pefloksasin dan lain-lain.
12. Golongan lain-lain
Masih banyak jenis-jenis antibiotika dan kemoterapetika lain yang tidak tercakup dalam kelompok yang disebutkan di
atas. Misalnya saja vankomisin, spektinomisin, basitrasin, metronidazol, dan lain-lain. Informasi mengenai
pemakaian dan sifat masing-masing dapat dicari dari sumber pustaka baku. Vankomisin terutama aktif untuk Gram
positif, terutama untuk S. areus, S. epidermidis, S. pneumoniae. Juga merupakan pilihan untuk infeksi stafilokokus
yang resisten terhadap metisilin. Tetapi karena toksisitasnya, maka vankomisin hanya dianjurkan kalau antibiotika
lain tidak lagi efektif.
Di samping antibiotika yang telah disebutkan di atas, akhir-akhir ini juga mulai diperkenalkan jenis-jenis baru dari
golongan beta laktam misalnya kelompok monosiklik beta laktam yakni aztreonam, yang terutama aktif terhadap
kuman Gram negatif, termasuk pseudomonas. Juga antibiotika karbapenem (misalnya imipenem) yang dikatakan
tahan terhadap penisilinase dan aktif terhadap kuman-kuman Gram positif dan Gram negatif.
Banyaknya jenis antibiotika dan kemoterapetika yang diuraikan di sini, walaupun mungkin tidak bisa semuanya
tercakup, menunjukkan betapa sulitnya untuk memilih salah satu yang paling tepat jika menghadapi suatu kasus
infeksi. Hal ini berkaitan erat dengan saling overlapping spektrum antikuman dari masing-masing jenis. Penemuan
jenis-jenis antibiotika baru harus diikuti secara seimbang dengan prinsip pemilihan yang praktis dan sesuai.
Bagaimana kita harus memilih dari sekian banyak alternatif jika menghadapi kasus-kasus infeksi?

Untuk mempermudah dalam pemilihan antibiotik, mungkin ada baiknya untuk mengenal kembali jenis-jenis infeksi
atau jenis-jenis infeksi atau jenis-jenis kuman penyebab infeksi secara global. Kuman-kuman penyebab infeksi
secara umum dapat dikategorikan secara besar sebagai berikut:
1. Kuman Gram positif
Kuman Gram positif dibedakan menjadi dua kelompok, yakni kuman aerob dan kuman anaerob.
Kuman Gram positif aerob: meliputi kuman-kuman koken (streptokokus, stafilokokus), basilus (saprofit), spiral
(treponema dan leptospira), batang (korinebakteria) dan lain-lain. Jadi secara sederhana kuman-kuman yang sering
dihadapi dalam praktek dari golongan ini misalnya kuman stafilokokus, streptokokus. Untuk kuman-kuman Gram
positif aerob ini, antibiotika pilihan utama adalah penisilin spektrum sempit (asalkan tidak ada resistensi karena
produksi enzim penilisinase). Penisilin spektrum luas, eritromisin, sefalosporin, mempunyai aktifitas antikuman
terhadap golongan Gram positif aerob, tetapi tidak sekuat penisilin spektrum sempit di atas. Contoh yang gampang
adalah infeksi saluran nafas oleh streptokokus maupun infeksi-infeksi piogenik dengan pernanahan.
Kuman Gram positif anaerob: yang paling penting di sini kemungkinan adalah kuman-kuman batang positif, yakni
klostridia, misalnya C. tetani, C. botulinum, C. gas gangren dan lain-lain. Untuk kuman-kuman ini penisilin dengan
spektrum sempit tetap merupakan obat pilihan utama, juga metronidazol.
2. Kuman Gram negatif
Kuman gram negatif juga terbagi menjadi kuman yang bersifat aerob dan anaerob.
Gram negatif aerob: termasuk koken (N. gonorrhoeae, N. meningitidis atau pnemokokus), kuman-kuman enterik (E.
coli, klebsiela dan enterobakter), salmonela, sigela, vibrio, pseudomonas, hemofilus dan lain-lain. Untuk kumankuman
kelompok ini, pilihan antibiotik dapat berupa penisilin spektrum luas, tetrasiklin, kloramfenikol, sefalosporin
dan lain-lain. Sebagai contoh, antibiotik pilihan untuk kuman vibrio adalah tetrasiklin, untuk salmonela adalah
kloramfenikol, untuk hemofilus adalah kloramfenikol.
Gram negatif anaerob: yang termasuk di sini yang penting adalah golongan bakteroides dan fusobakterium.
Linkomisin dan klindamisin, beberapa sefalosporin, metronidazol, kombinasi amoksisilin dengan asam klavulanat.
Pembagian kuman penyebab infeksi ini sangat disederhanakan, oleh karena spektrum kuman penyebab infeksi pada
masing-masing organ tubuh atau lokasi tubuh masih sangat bervariasi. Sehingga dalam prakteknya jenis infeksi,
kuman spesifik penyebabnya harus dicari dan dipertimbangkan termasuk spektrum kepekaan kuman pada umumnya
yang menentukan antibiotika pilihan untuk infeksi yang bersangkutan. Dalam Tabel 1 tertera infeksi-infeksi dengan
kuman penyebab dan pilihan antibiotikanya.
III. PRINSIP PEMILIHAN DAN PEMAKAIAN DALAM KLINIK
Sesudah mengkaji pembagian dan jenis-jenis antibiotika maupun kemoterapetika yang ada, bagaimanakah
membuat keputusan mengenai pemilihan dan pemakaian antibiotika? Secara klinik memang sulit untuk memastikan
kuman penyebab infeksi secara antibiotika atau menunggu hasil pemeriksaan mikrobiologi, misalnya dalam
menghadapi suatu kasus infeksi yang gawat. Jadi secara umum adalah tidak dapat diterima secara etik praktek
dalam dua kondisi ekstrim berikut,
· memberikan atau memulai terapi antibiotika atau kemoterapetika secara sembarangan tanpa
mempertimbangkan kemungkinan kuman penyebab infeksinya,

· menunda atau tidak memberikan antibiotika sama sekali pada satu kasus yang secara klinis benar-benar suatu
infeksi bakterial dengan alasan karena hasil pemeriksaan biologi tidak atau belum diperoleh. Penundaan ini
akan sangat memperbesar resiko komplikasi atau perkembangan lebih berat dari infeksinya.
Dalam hal kedua di atas, di mana infeksi sudah memang dapat ditegakkan secara klinis, tetapi pemeriksaan
mikrobiologi belum menunjukkan hasil maka dapat saja terapi antibiotika dimulai dengan perkiraan (secara ilmiah –
educated guess) berdasarkan kemungkinan kuman penyebab yang lazim, misalnya dari data epidemologi. Sebagai
contoh, misalnya menghadapi faringitis, maka kuman penyebab yang paling sering adalah golongan streptokokus
yang sensitif terhadap penisilin.
Secara umum, berdasarkan ditemukannya kuman penyebab infeksi atau tidak, maka terapi antibiotika dapat dibagi
menjadi dua (9), yakni terapi secara empiris dan terapi pasti.
Terapi secara empiris: Pada banyak keadaan infeksi, kuman penyebab infeksi belum dapat diketahui atau dipastikan
pada saat terapi antibiotika dimulai. Seperti yang diutarakan di muka, pemilihan jenis antibiotika diberikan
berdasarkan perkiraan kemungkinan kuman penyebabnya. Ini dapat didasarkan pada pengalaman yang layak atau
berdasarkan pada pola epidemiologi kuman setempat. Pertimbangan utama dari terapi empiris ini adalah
pengobatan infeksi sedini mungkin akan memperkecil resiko komplikasi atau perkembangan lebih lanjut dari
infeksinya, misalnya dalam menghadapi kasus-kasus infeksi berat, infeksi pada pasien dengan kondisi depresi
imunologik. Keberatan dari terapi empirik ini meliputi, kalau pasien sebenarnya tidak menderita infeksi atau kalau
kepastian kuman penyebab tidak dapat diperoleh kemudian karena sebab-sebab tertentu (misalnya tidak diperoleh
spesimen), maka terapi antibiotika seolah-olah dilakukan secara buta.
Terapi pasti (definitif): Terapi ini dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologis yang sudah pasti, jenis
kuman maupun spektrum kepekaannya terhadap antibiotika. Dalam praktek sehari-hari, mulainya terapi antibiotika
umumnya dilakukan secara empiris. Baru kalau hasil pemeriksaan mikrobiologis menunjukkan ketidakcocokan
dalam pemilihan antibiotika, maka antibiotika dapat diganti kemudian dengan jenis yang sesuai. Pedoman dalam
Tabel 1, dapat merupakan petunjuk terapi empiris tersebut.
Prinsip-prinsip proses keputusan pemilihan dan pemakaian antibiotika secara ringkas mencakup langkah-langkah
berikut (10):
1. Penegakan diagnosis infeksi. Hal ini bisa dikerjakan secara klinis ataupun pemeriksaan-pemeriksaan tambahan
lain yang diperlukan. Apakah jenis infeksinya berdasarkan organ yang terkena? Gejala panas sama sekali
bukan kriteria untuk diagnosis adanya infeksi.
2. Kemungkinan kuman penyebabnya, dipertimbangkan dengan perkiraan ilmiah berdasarkan pengalaman
setempat yang layak dipercaya atau epidemiologi setempat atau dari informasi-informasi ilmiah lain.
3. Apakah antibiotika benar-benar diperlukan? Sebagian infeksi mungkin tidak memerlukan terapi antibiotika
misalnya infeksi virus saluran pernafasan atas, keracunan makanan karena kontaminasi kuman-kuman enterik.
Jika tidak perlu antibiotika, terapi alternatif apa yang dapat diberikan?
4. Jika diperlukan antibiotika, pemilihan antibiotika yang sesuai berdasarkan,
- spektrum antikuman,
- pola sensitifitas,
- sifat farmakokinetika,
- ada tidaknya kontra indikasi pada pasien,
- ada tidaknya interaksi yang merugikan,
- bukti akan adanya manfaat klinik dari masing-masing antibiotika untuk infeksi yang bersangkutan
berdasarkan informasi ilmiah yang layak dipercaya.

5. Penentuan dosis, cara pemberian, lama pemberian berdasarkan sifat-sifat kinetika masing-masing antibiotika
dan fungsi fisiologis sistem tubuh (misalnya fungsi ginjal, fungsi hepar dan lain-lain).
6. Evaluasi efek obat. Apakah obat bermanfaat, kapan dinilai, kapan harus diganti atau dihentikan? Adakah efek
samping yang terjadi?
Urutan proses-proses ini merupakan pedoman umum mengenai hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih
dan memakai antibiotika dalam klinik. Secara rinci proses-proses ini dapat berkembang lebih jauh berdasarkan
kasus infeksi yang dihadapi.
IV. KOMBINASI ANTIBIOTIKA
Bagaimana dengan pemakaian kombinasi antibiotika? Dalam klinik banyak dijumpai pemakaian kombinasi
antibiotika, yang sayangnya tidak semuanya dapat diterima secara ilmiah begitu saja. Tujuan pemakaian kombinasi
antibiotika mencakup hal-hal sebagai berikut (8),
- Memperluas spektrum anti kuman pada pasien dengan kondisi kritis atau infeksi berat, tetapi jenis infeksinya
belum dapat dipastikan. Misalnya pada septikemia sering diberikan kombinasi antibiotika antistafilokokus
(misalnya nafsilin) dan antibiotika terhadap basil Gram negatif aerob (misalnya gentamisin).
- Untuk mengatasi adanya kuman yang resisten. Misalnya kombinasi amoksisilin dengan asam klavulanat atau
sulbaktam untuk mengatasi resistensi karena produksi enzim penisilinase.
Pemakaian kombinasi antibiotika juga mengandung risiko misalnya adanya akumulasi toksisitas yang serupa,
misalnya nefrotoksisitas aminoglikosida dan nefrotoksisitas dari beberapa jenis sefalosporin. Kemungkinan juga
dapat terjadi antagonisme, kalau prinsip-prinsip kombinasi di atas tidak ditaati, misalnya kombinasi penisilin dan
tetrasiklin. Walaupun pemakaian beberapa kombinasi dapat diterima secara ilmiah, tetap diragukan perlunya
kombinasi tetap oleh karena kemungkinan negatif yang dapat terjadi. Sebagai contoh kombinasi tetap penisilin dan
streptomisin justru akan meyebabkan inaktivasi dari masing-masing antibiotika oleh karena terjadinya kerusakan
secara kimiawi.
V. KERUGIAN PEMAKAIAN ANTIBIOTIKA SECARA SEMBARANGAN
Sesudah mengikuti prinsip-prinsip pemilihan dan pemakaian antibiotika seperti yang diuraikan di depan, apa dan
bagaimana dampak negatif dari pemakaian antibiotika yang dilakukan secara sembarangan, atau secara irasional?
Dampak negatif pemakaian antibiotika secara sembarangan akan mencakup hal-hal sebagai berikut (11):
- Terjadinya resistensi kuman. Timbulnya strain-strain kuman yang resisten akan sangat berkaitan dengan
banyaknya pemakaian antibiotika dalam suatu unit pelayanan.
- Terjadinya peningkatan efek samping dan toksisitas antibiotika, yang terjadi secara langsung karena pengaruh
antibiotika yang bersangkutan atau karena terjadinya superinfeksi. Misalnya pada pemakaian linkomisin atau
vankomisin dapat terjadi superinfeksi dengan kuman Clostridium difficile yang menyebabkan kolitis
pseudomembranosa.
- Terjadinya pemborosan biaya misalnya karena pemakaian antibiotika yang berlebihan pada kasus-kasus yang
kemungkinan sebenarnya tidak memerlukan antibiotik.
- Tidak tercapainya manfaat klinik optimal dalam pencegahan maupun pengobatan penyakit infeksi.
Sayangnya dalam praktek klinik masih sering sekali dijumpai pemakaian antibiotika yang tidak pada tempatnya
(irasional). Kebiasaan-kebiasaan pemakaian antibiotika yang keliru ini sedikit banyak berkaitan dengan adanya
kepercayaan-kepercayaan atau pemikiran yang keliru mengenai manfaat antibiotika, kurangnya informasi yang
obyektif mengenai manfaat antibiotika dan lain-lain. Beberapa contoh kebiasaan berikut hanya menggambarkan
sebagian saja dari masalah pemakaian antibiotika yang tidak rasional, yakni,
- Pemakaian antibiotika pada kondisi-kondisi yang sebenarnya tidak memerlukan terapi antibiotika, misalnya pada
infeksi viral saluran pernafasan atas, diare akut nonspesifik, antibiotika profilaksi pada tindakan-tindakan bedah
yang bersih (aseptik).
- Pemakaian satu jenis antibiotika tanpa memandang jenis infeksi dan kuman penyebabnya. Di puskesmas
antibiotika tetrasiklin diberikan pada kurang lebih 70% kasus dengan berbagai macam diagnosis (2).
- Pemakaian antibiotika dengan dosis yang tidak mencukupi misalnya pemberian selama 3 hari, tanpa melihat
efek terapi yang terjadi.
- Pemberian antibiotika secara berlebihan pada kasus-kasus infeksi nonbakterial ringan dengan alasan untuk
mencegah komplikasi karena kondisi malnutrisi.
- Pemakaian antibiotika kombinasi tanpa dasar dan tujuan yang jelas.
Masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan yang keliru yang notabene akan memperbesar kemungkinan terjadinya
dampak negatif dan memperkecil tercapainya efek yang diinginkan. Pendidikan berkelanjutan dan informasi secara
terus menerus bagi para praktisi memegang peran penting dalam upaya mengurangi atau mencegah kebiasaankebiasaan
pemakaian antibiotika yang tidak sesuai tersebut.
VI. BAGAIMANA MENILAI SUATU ANTIBIOTIKA BARU
Dengan cepatnya dan makin seringnya diperkenalkan berbagai jenis antibiotika dan kemoterapetika baru, praktisi
sering mendapatkan kesulitan dalam menilai manfaat, peran serta resiko dari suatu jenis obat baru dibandingkan
dengan jenis-jenis yang sudah ada. Hal ini sering diperburuk oleh kenyataan bahwa informasi yang diberikan
mengenai obat yang baru, lebih sering banyak menonjolkan segi manfaat dan kelebihannya, sedangkan efek
samping dan kekurangan-kekurangan lainnya cenderung diperkecilkan. Di lain pihak, informasi ilmiah dalam bukubuku
pustaka untuk obat yang baru diperkenalkan umumnya masih kurang lengkap. Menghadapi kesulitan ini reaksi
yang timbul dapat muncul secara ekstrim dalam dua kemungkinan. Pertama, mengikuti saja semua informasi dan
anjuran yang diterima, walaupun informasinya belum tentu sepenuhnya benar. Kedua, secara apriori langsung
menolak semua informasi dan anjuran tanpa terlebih dulu apakah ada kelebihan manfaat dari obat baru yang
diperkenalkan tersebut.
Menghadapi suatu jenis antibiotika baru yang diperkenalkan, maka langkah-langkah penelaahan yang dianjurkan
adalah sebagai berikut,
- Termasuk jenis apakah antibiotika baru tersebut?
- Bagaimana spektrum antikumannya?
- Apa indikasi pemakaian kliniknya?
- Apa antibiotika pilihan utama dan pilihan alternatif untuk kondisi klinik atau infeksi yang dimaksud?
- Apakah antibiotika baru secara mikrobiologik lebih aktif, atau lebih paten dibanding antibiotika yang sudah ada
untuk infeksi bersangkutan?
- Apakah ada kelebihan lain secara farmakologik, misalnya dalam sifat-sifat kinetik, absorpsi, distribusi dan
penetrasi jaringan, eliminasi, cara pemberian, dosis dan sebagainya?
- Apakah antibiotika baru memberikan manfaat klinik lebih baik dibanding yang sudah ada? Dan apakah bukti
manfaat klinik ini ditunjang oleh penelitian uji klinik yang dapat diterima, misalnya dengan rancangan
randomized controlled trial?
- Apakah antibiotika baru lebih aman, kurang toksik atau kurang efek sampingnya dibanding yang sudah ada?
- Apakah beaya pemakaian kliniknya lebih murah dibandingkan dengan obat yang sudah ada dengan manfaat
klinik dan keamanan yang sebanding?
Jika pertimbangan-pertimbangan ini sudah diambil dan jawabannya menunjukkan bahwa antibiotika baru tersebut
dapat diterima untuk dipakai dalam klinik, maka pertanyaan lebih lanjut adalah apakah antibiotika baru tersebut
dapat dipakai secara rutin, ataukah hanya dipakai sebagai cadangan atau simpanan (reserved antibiotics) untuk
menghadapi kasus-kasus khusus yang tidak dapat diatasi dengan antibiotika yang sudah ada. Sebagai contoh,
mestinya amikasin hanya dipakai kalau menghadapi infeksi dengan kuman yang resisten terhadap gentamisin, atau
pada infeksi faringitis streptokokus maka eritromisin dipakai kalau pasien tidak tahan terhadap penisilin.
Pertimbangan-pertimbangan yang dikemukakan ini walau nampaknya rumit, tetapi dalam praktek seyogyanya selalu
harus diambil dalam menghadapi perkenalan suatu antibiotika baru.
VII. PENUTUP
Pemakaian antibiotika secara optimal dan efektif memerlukan pengetahuan mengenai sifat-sifat dinamika dan
kinetika dari jenis-jenis antibiotika yang tersedia. Di samping itu juga memerlukan pengertian dan pemahaman
mengenai bagaimana memilih dan memakai antibiotika secara benar, mulai dari pemilihan berdasarkan indikasi
yang tepat, menentukan dosis, cara pemberian, lama pemberian, maupun evaluasi efek antibiotika. Pemakaian
dalam klinik yang menyimpang dari prinsip-prinsip pemilihan dan pemakaian secara rasional akan membawa
dampak negatif dalam bentuk meningkatnya resistensi, efek samping, pemborosan dan kegagalan pencegahan dan
pengobatan infeksi.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Massel, B.F., Chute, O.G., Walker, A.M., Kurland, G.S. 1988 Penicillin and the marked decrease in morbidity and
mortality from rheumatic fever in the United States. New England Journal of Medicine 318:280-6
Management Sciences for Health, Yayasan Indonesia Sejahtera & Ministry of Health, Republic of Indonesia (1988)
Child Survival Pharmaceuticals in Indonesia – Part II: Were does the tetracyclines go?, Management Sciences
for Health, Boston.
Departemen Kesehatan RI 1988 Buku Pedoman Penatalaksanaan Penderita ISPA dan Diare untuk Petugas
Kesehatan . Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Laurence , D.R. & Bennet, P.N. 1987 Clinical Pharmacology 6th ed. Churchill Livingstone, Edinburgh.
Whitby, M. & Finch, R. 1986 Bacterial meningitis. Rational selection and use of antibacterial drugs. Medical progress
October: 49-64.
Jawetz, E. 1987 Principles of antimicrobial drug action, dalam B.G. Katzung (ed.): Basic and Clinical Pharmacology,
3rd ed. pp. 509-15. Appleton & Lange, Norwalk.
Kucers, A. & Bennett, N.McK. 1987 The Use of Antibiotics. A Comprehensive Review with Clinical Emphasis, 4th ed.
William Heinemann Medical Books, London.
Enenkel, S. & Stille, W. 1988 Antibiotics in the Tropics, Springer-Verlag, Heidelberg.
Mills, J., Barriere, S.L., Jawetz, E. 1987 Vaccines, immune globulins & other complex biologic products, dalam B.G.
Katzung (ed.): Basic and Clinical Pharmacology, 3rd ed. pp. 590-601. Appleton & Lange, Norwalk.
Grahame-Smith, D.G. & Aronson, J.K. 1985 Oxford Textbook of Clinical Pharmacology and Drug Therapy. Oxford
University Press, Oxford.
Levy, S.B., 1982 Microbial resistance to antibiotics: an evolving and persistent problem, dalam The Lancet
(ed.): Good Antimicrobial Prescribing – A Lancet Review, The Lancet, London.